Selasa, 15 September 2009

Meraih Mimpi (Sing To The Dawn)

"Meraih Mimpi"


Indonesia kembali menunjukkan kreatifitasnya di mata dunia. “Meraih Mimpi” film animasi 3D pertama karya anak bangsa, dengan durasi 90 menit, yang dirilis pada 16 September 2009, produksi Infinite Frameworks (IFW), studio animasi yang berpusat di Batam.

Dan inilah orang-orang yang berperan penting dalam pembuatan film tersebut.

Sutradara: Phil Mohamad Mitchell

Produser: Mike Wiluan

Penulis: Philip Stamp dan Nia Dinata

Para pengisi suara film "Meraih Mimpi":
1. Gita Gutawa: Dana
2. Patton “Idola Cilik”: Rai
3. Uli Herdinansyah: Somad (ayah dari Dana dan Rai).
4. Surya Saputra: Pairot
5. Shanty: Minah
(Burung Beo)
6. Cut Mini: Kakatu (Burung Kakatua)
7. Indra Bekti: Ben
8. Jajang C. Noer: Oma
9. Joko Anwar: Ubay
10. Jose Rizal Manua: Wiwien
11. Tike Priyatnakusuma: Tante Bear
12. Nina Tamam: Kelelawar
13. Melissa Karim: Rusa
14. Ria Irawan: Kadal
15. Otto S. Djauhari: Monyet penemu
16. Berry Puraatmadja: Pak Guru

Sekilas Tentang Kisah Dari Film “Meraih Mimpi”:

Dana (Gita Gutawa), yang terpaksa mengikuti tradisi patriarkis di kampungnya dan juga dominasi penguasa tuan tanah yang membebani keluarganya dan seluruh kampung dengan pajak tanah yang keterlaluan. Padahal sebenarnya tuan tanah Pairot, berniat mengusir warga demi membangun perhotelan dan kasino. Perjalanan Dana menjadi sangat unik ketika ia sadar bahwa hanya dengan memenangkan kompetisi beasiswa untuk melanjutakan sekolahnya, ia dapat berjuang melawan ketidakadilan ini.

Ditemani dengan binatang-binatang hutan dan Rai (Patton) adiknya, Dana tidak hanya berhasil mendapatkan beasiswa, tetapi mereka juga menemukan rahasia tuan tanah akan identitasnya yang sebenarnya. Meraih Mimpi adalah kisah anak perempuan dan keluarganya yang mencintai binatang dan lingkungan dan tak berhenti bermimpi dan berjuang.

Film “Meraih Mimpi” dibuat atas permintaan pemerintah Singapura yang ingin buku wajib baca di beberapa SD di Singapura “Sing To The Dawn” untuk dibuatkan filmnya. "Sing To The Dawn" sendiri adalah sebuah novel karya Minfong Ho pada tahun 1975. Yang berkisah tentang Dawan, seorang gadis desa di Thailand. Meskipun banyak rintangan yang menghalngi, namun akhirnya ia berhasil meraih impiannya.


Begitu mendapat tawaran, IFW langsung memulai pengerjaan film "Sing to The Dawn". Film ini dibuat oleh 150 animator (145 orang Indonesia dan 5 orang asing). Pengerjaan dilakukan sepenuhnya di Batam selama 3 tahun dan memakan biaya sebesar 5 juta dolar AS atau sekitar 50 milyar rupiah. Setelah selesai dibuat pada tahun 2008 dalam versi bahasa Inggris. “Sing to The Dawn” tidak langsung diluncurkan ke Indonesia, tetapi masih didistribusikan ke beberapa negara seperti, Singapura, Korea, dan Rusia, karena IFW ingin memperkenalkan film ini ke penonton di luar negeri terlebih dahulu.

“Sing to The Dawn" tidak langsung kami luncurkan ke Indonesia karena kami ingin meraih international recognizition terlebih dahulu. Setelah itu, kami baru meluncurkan di Indonesia agar masyarakat tahu bahwa ada studio animasi di Indonesia,” begitu jelas Wisnu Triatmojo, Jubir IFW.

Baru pada tahun ini “Sing To The Dawn” dilokalisasi ke dalam versi Indonesia dengan judul “Meraih Mimpi”. Nia Dinata direkrut untuk membantu proses script writing dan Erwin Gutawa diminta langsung untuk mengomposisi ulang musik yang akan mengiringi film. Karena pada awalnya dibuat dalam versi bahasa inggris, cukup sulit untuk menyesuakan dialog dalam cerita dengan gerakan bibir pada film tersebut. Namun akhirnya “Meraih Mimpi” berhasil diselesaikan, dan akan tayang di bioskop-bioskop pada tanggal mulai 16 September 2009, dimulai dari jaringan bioskop XXI Indonesia.

Konon kabarnya film ini siap Go Internasional dan bersaing dengan film animasi sekelas Hollywood. Meskipun beberapa sumber mengatakan bahwa, film “meraih Mimpi” bukan sepenuhnya diproduksi oleh Indonesia, karena sebagian biaya poduksi berasal dari Singapura, bahkan dalam sebuah forum dikatakan bahwa, film tersebut adalah milik Singapura namun karena gagal, akhirnya “Sing To The Dawn” ditayangkan di Indonesia dalam versi “Meraih Mimpi”, dan agar film ini laris, dibuatlah film ini seakan-akan karya anak negeri.

Tapi apapun itu, saya berharap agar film ini bisa menjadi pelopor bangkitnya industri animasi di Indonesia. Mengingat, lambatnya pertumbuhan industri animasi di Indonesia, tentu ini merupakan sebuah terobosan baru.


8 komentar:

Muhammad Rizki Fadillah mengatakan...

FILM INI PLAGIAT UPIN & IPIN!

Tapi saya salut ama ni film.

Muhammad Rizki Fadillah mengatakan...

Saya pengen nonton film ini.

Moh. Arief Rahman M. mengatakan...

film ini tidak pelagiat kok, ceritanya cukup jauh berbeda dengan upin dan ipin, karena film ini diadaptasi dari novel yang sudah lama ada (karya Minfong Ho pada tahun 1975), dan novel ini sudah cukup terkenal diberbagai negara khususnya di Asia tenggara, malah saya pikir laskar pelangi ada kemiripan dengan novel yang satu ini. Mungkin....

zitsgie.anivers mengatakan...

iya... betull...!!! indonesia itu memiliki banyak animator...!!! akupun akan membutikan dengan club yang aku ketuai (zitsgie anivers) dan sekarang sedang menggarap film 2d. he...he... DUKUNG TERUS ANIMASI INDONESIA...!!! SUMBAT MASUKNYA FILM ANIMASI LUAR NEGERI...!!! SAYA JAMIN ORANG INDONESIA GAK AKAN BANGGA TERHADAP BAGSANYA SENDIRI KALO YANG MEREKA LIHAT HANYALAH KARYA BANGSA ORANG LAIN. . .!!! DENGAN DEMIKIAN MEREKA AKAN BERANI MELUDAHI BANGSA TERCINTA INI

naga mengatakan...

Mantapp mantapp bro.. gud luck to Indonesia.
Kreatifitas anak negri akan semakin berkembang jika kita menghargainya sebagai saudara se bangsa.

Anonim mengatakan...

yaa, meskipun reff lagu perihnya vierra ada kemiripan sama lagunya ayumi hamasakai, saya tetap suka, lagi pula bagian intronya juga gak kalah keren kok. tetap keren apapun yang terjadi. hidup produk indonesia!!!

Muhammad Rizki Fadillah mengatakan...

Kutarik kata2ku kembali.

Tapi saya mau komen sama si anonim di atas saya.

sebenernya bukan cuma lagu yg perih, tapi yg bersamamu mirip sama dewi lestari yang peluk.

Gimana lagu luar nggak dijiplak, lagu indonesia sendiri aja dijiplak.

bingung, bingung ku memikirnya...

Anonim mengatakan...

bukannya, lagunya vierra yang bersamamu itu mirip dengan lagunya westlife - close. aduh!!! sebenarnya vierra ini plagiatnya sama siapa sih, ato BCL juga plagiatin westlife, makanya mirip lagunya dengan vierra - bersamamu.

Posting Komentar