Jumat, 22 Juli 2011

"Blood Ink Pen" (Part 2)

Maya lalu menoleh kearahku sejenak dengan alis yang menukik kebawah. Meskipun terlihat bingung, tapi kelihatannya dia melihatku dengan jelas.

Lalu ia melihat kearah tanganku yang sedang memegang pulpen. Dan ia pun langsung berbisik,

“Pegang yang erat terus.” Kata Maya.

“Apa?” Aku bertanya kepada Maya.

“Pulpenmu, apapun yang terjadi kamu harus terus memegangnya dengan erat, OK!.” Perintah Maya.

“Woy, udah gila ya lo?. Ngomong sendiri.” Preman itu heran melihat Maya berbicara kepadaku.

“Aku tidak berbicara sendiri kok! Kalau kalian mahu tahu, aku sedang berbicara dengan jin sahabatku” Kata Maya.

“Wah jangan-jangan lo emang udah sarap ya?!. Mana ada yang namanya jin. Siang-siang gini lagi.” Kata salah satu dari preman-preman itu.

“Kalau tidak percaya, aku bisa menyuruh jin-ku mengangkat batu itu. Jin ayo angkat batu itu.” Kata Maya sambil menghadap kepadaku.

Dengan langkah ragu-ragu. Kemudian aku mengabil batu yang lumayan berat yang ia maksud. Tapi, sementara itu aku juga terus menggenggam erat pulpen yang kupegang. Ketika aku mengangkat batu itu. Para preman itu pun langsung terkejut ketakutan seakan-akan mereka sedang melihat hantu.

“Sekarang lempar batu itu jin!”perintah Maya pada jin yang sebenarnya adalah aku.

Tanpa ragu-ragu aku melempar batu itu kearah para preman-preman itu. Merekapun lari kalang-kabut seperti orang yang sedang di kejar-kejar anjing.

“HaHaHaHa…” tawa Maya begitu kerasnya.

“Maya, kenapa mereka keliatannya tidak bisa melihatku?.” Aku bertanya kepada Maya.

“Oh iya, cepat lepas pulpen itu!” seru Maya.

Aku pun melepas pulpen itu ke tanah, lalu ia mengambil pulpen itu dan mengamatinya dengan seksama.

“Hey, kau belum menjawab pertanyaanku. Lalu kenapa kamu bisa lihat aku tadi!” aku semakin penasaran tapi Maya hanya sibuk mengamati pulpen itu.

“Tidak salah lagi, Ini pulpen tinta darah...” Gumam Maya.’

“Apa? Pulpen apa?.” Aku bertanya keda Maya.

“Pulpen tinta darah!.” Jawab Maya.

“Pulpen tinta darah?. Pulpen macam apa itu.” Aku semakin penasaran.

“Dulu almarhum kakekku pernah bercerita tentang sebuah pulpen. Ia bilang pulpen itu bisa membuat jawaban yang salah menjadi benar. Dan bisa membuat orang menghilang jika genggam dengan erat!.” Kata Maya menjelaskan padaku dengan wajah yang serius.

“Ah, ada-ada saja kamu. Itu pasti karena kamu terlalu terobsesi dengan hal-hal mistis. Aku tidak percaya ah!.” Kataku.

“Tidak percaya bagaimana?. Kamu lihat sendiri ‘kan mereka tadi tidak bisa melihamu. Oh ya, kamu juga bilang jawaban ulanganmu berubah menjadi benar. Iya ‘kan?.” Kata Maya yang membuatku menjadi yakin dengannya.

“Benar juga sih… tapi masa ia ada benda seperti itu. Lalu kenapa kamu bisa melihatku tadi?.” Tanyaku kepada Maya.

Lalu ia Menjawab,

“Aku ‘kan sudah bilang, aku bisa melihat mahluk halus dan hal-hal gaib lainnya. Kamu pikir aku bergurau tentang hal itu?.”

“Tapi… apa iya ada benda seperti itu. Pulpen tinta darah yang ajaib.” Aku bertanya-tanya dalam hati.

Ternyata selama ini Maya memang benar-benar bisa melihat mahluk halus. Pantas saja ia begitu yakin dengan hal-hal magis. Diapun menanyakan apakah aku juga menemukan benda lain bersama pulpen itu.

“Apa kamu juga menemukan sesuatu yang lain bersama pulpen ini?. Maya bertanya kepadaku.

“Tidak. Aku hanya menemukan pulpen ini saja dibawah ranjangku.” Aku menjawab pertanyaan Maya.

“Kalau begitu ayo kita ke rumahmu. Mungkin di bawah ranjangmu atau dikamarmu ada suatu petunjuk mengenai pulpen ini.” Kata Maya.

“Baiklah ayo kita pergi!.” Kataku.

Kamipun segera kerumahku. Kuperiksa kolong ranjangku dan aku pun menemukan sebuah buku. Kemudian aku mengambil buku tersebut. Aku belum pernah melihat buku tersebut sebelumnya, jadi kupikir buku ini adalah benda yang memiliki kaitan dengan pulpen itu. Dan ketika aku membuka buku itu. Benar saja, di dalam buku tersebut terselip secarik kertas usang yang isinya mengenai pulpen tersebut. Sementara di buku itu tertulis nama-nama orang—dengan tanggal-tanggal disamping masing-masing nama—dengan tinta berwarna merah.

Isi kertas itu berisi tentang kegunaan dan aturan pemakaian pulpen tersebut:

“Pulpen Tinta Darah”

Fungsi pulpen ini adalah mengubah jawaban yang salah menjadi jawaban yang benar. Tuliskan jawaban apa saja dari soal yang ada. Maka tulisan itu akan berubah menjadi jawaban yang benar dari soal yang dimaksud.

Tentu saja pulpen ini tintanya juga bisa habis. dan untuk mengisi ulang tinta pulpen ini adalah dengan MEMBUNUH. Dan seluruh darah orang yang di bunuh itulah yang akan menjadi tinta dari pulpen ini. Cukup tancapkan pulpen ini ke tubuh mayat tersebut dan darah dengan sendirinya akan mengalir masuk kedalam pulpen ini.

Tapi, orang-orang yang harus dibunuh sudah ditentukan oleh pulpen ini. Setiap kali tintanya habis, satu nama korban akan muncul di sebuah buku di mana pulpen ini biasa diselipkan. Mereka adalah orang-orang yang memang sudah mendekati ajalnya. Jadi kita hanya mempercepat sedikit waktu kematiannya. Dan, ketika orang itu sudah mati, degan sendirinya waktu kematian akan tertulis disamping nama mereka masing-masing.

Untuk mempermudah anda mendapatkan tinta pulpen ini—membunuh orang. Ketika anda memegang pulpen ini dengan erat. Maka anda akan terlepas dari ikatan demensi ruang dan dimensi waktu. Dengan kata lain anda tidak akan terlihat dan bisa berpindah tempat dan waktu dengan mudah dengan bantuan pulpen ini. Genggam erat pulpen ini dan pejamkan mata sambil memikirkan nama korban, dan anda akan terbawa ketempat korban yang dimaksud.

Setiap pengguna pulpen ini akan mati pada usia 16 tahun.Oleh karena itu pulpen ini tidak akan berfungsi jika dipakai oleh orang-orang yang berusia di atas 16 tahun.




Tiba-tiba saja aku terdiam tubuhku seakan kaku dan keningku berkeringat dingin ketika membaca keterangan yang terakhir. “Pengguna pulpen ini akan mati pada usia 16 tahun.” Dan aku telah menggunakan pulpen itu.

“Hey, kau kenapa?! Apa yang tertulis di situ?.” Maya keheranan melihatku terdiam.

Maya langsung mengambil kertas yang kupegang sementara aku masih terdiam lemas. Lalu ia membaca semua isi kertas tersebut dan berkata,

“Ini tidak selengkap yang diberitahukan oleh kakekku dulu” Kata Maya yang sepertinya tahu lebih banyak tentang pulpen itu.

“Benarkah, lalu apakah keterangan yang terakhir itu benar?” Tanyaku dengan gemetar.

“Benar….” Kata Maya.

“Kenapa kau begitu tenang? Kau tahu aku sudah menggunakan pulpen itu. Itu berarti aku akan mati, mati...Maya…mati…!!!” kataku.

“Aku tahu. Tenang saja kakekku bilang ada cara untuk mencegah kematian itu.” Jawab Maya tanpa ekspresi panik.

Maya memang tidak pernah terlihat panik ataupun takut. Sepertinya hidupnya begitu mudah karena dia tahu segala hal untuk menyelesaikan semua masalah. Atau mungkin dia memang tidak memiliki ekspresi tersebut. Terkadang aku berpikir dia adalah gadis yang aneh.

Tapi, aku sedikit lega mendengarnya.

“Bagaimana..?.” Tanyaku.

“Kita harus menghancurkan pulpen itu.” Jawab Maya.

“Baiklah aku akan membakar pulpen ini!” Seruku dan langsung berdiri ingin segera memusnahkan pulpen itu.

Maya berkata,

“Tidak bisa! Pulpen itu tidak akan hancur hanya dengan dibakar. Satu-satunya cara adalah…”

“Apa caranya? Bagaimana?” Aku betul-betul penasaran den menggebu-gebu ingin segera memusnahkan pulpen yang akan membunuhku itu.

“Oh iya, aku ingat! Satu-satunya cara untuk menghancurkan pulpen ini adalah, membuat pulpen ini menyerap darahmu yang dicampur dengan darah korban selanjutnya.” Jawab Maya.

“Korban selanjutnya…?.” Kataku.

“Ia, korban selanjutnya. Korban selanjutnya yang ditentukan oleh pulpen itu. Untuk diambil darahnya sebagai tinta. Nama korban itu akan muncul di buku—di mana pulen ini biasa diselipkan—setelah tinta pulpen itu habis.” Kata Maya.

“Jadi, untuk mengetahui siapa korban selanjutnya. Aku harus tetap memakai pulpen ini. Agar tintanya segera habis.” Tanyaku.

“Sepertinya begitu. Hmmm… memang harus terus digunakan agar tintanya cepat habis.” Kata Maya.

“Ini gawat. Beberapa minggu lagi aku akan berusia 16 tahun. Aku harus segera menghabiskan tinta pulpen ini!.” Aku pun segera mencorat-coret kertas yang ada dengan pulpen itu. Dan berharap tintanya segera habis.

Belum habis ketakutanku akan ketentuan pengguna pulpen yang akan membuatku mati pada usia 16. Aku langsung menghentikan tanganku yang mencoret-coret kertas katika sepintas aku meliahat buku—tempat pulpen itu biasa diselipkan—yang masih terbuka. Di dalam buku itu terdapat nama-nama korban yang telah dibunuh sebelumnya beserta waktu kematiannya masing-masing. Tapi ada satu yang aneh. Di daftar nama-nama itu, tertera dengan jelas nama lengkapku di urutan terakhir tapi dengan waktu kematian satu hari sebelum ulang tahunku tahun ini—hari ulang tahunku yang ke 16 hanya beberapa minggu lagi. Akupun kembali shock. Dan jantungku benar-benar berdebar sangat kencang.

“Maya… coba kau lihat ini. Kenapa namaku tertulis di daftar para korban di buku ini.” Aku bertanya kepada Maya.

(To Be Continued...)



"Blood Ink Pen" (Part 1)

"Blood Ink Pen" (Part 3)
"Blood Ink Pen" (Part 4)
"Blood Ink Pen" (Part 5)




0 komentar:

Posting Komentar