Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2011

"Blood Ink Pen" (Part 5)

Beberapa hari kemudian. Sekitar beberapa hari setelah ulang tahunku yang ke 16, akupun sadarkan diri di rumah sakit dengan perban di kepala dan infuse di tangan kananku. Di ruanganku sudah ada ayah-ibu serta adikku Abi yang menunggu aku terbangun dari koma.

“Ayah, ibu, dia sudah sadar!” Seru adikku Abi.

“Akhirnya kamu sadar juga nak.” Kata ibuku sambil menangis.

“Ayah ibu, kalian sudah pulang?. Dimana aku? Apa yang terjadi? Aduh! kepalaku”. Kataku.

“Kau dirumah sakit nak, sudah jangan banyak berpikir dulu. Lebih baik kau istarahat saja.” Kata Ayahku.

Sesaat aku benar-benar bingung. Tapi, kemudian aku teringat semuanya. Dan semua ingatanku yang dulu telah kembali. Benturan di tangga itu membuatku sembuh dari amnesiaku.

Setelah mengingat semuanya akhirnya aku tahu semua teka-teka yang aku pertanyakan selama ini.



Ternyata dulu akulah pengguna pulpen yang sebelumnya, saat itu aku masih kelas 3 SMP. Dulu ayahku adalah orang yang sangat keras dan otoriter. Ia begitu memaksakan kehendaknya terhadap anak-anaknya. Sedari kecil kami selalu dipaksa dan ditekan agar terus berprestasi di sekolah. Memang adikku sangat pintar, sedangkan aku hanya seorang siswa yang biasa-biasa saja di sekolah—tidak begitu pintar. maka dari itu ayahku selalu membeda-bedakan aku dengan adikku Abi. Ia selalu lebih perhatian dan lebih mementingkan Abi daripada aku.

Aku sangat merasa dikucilkan dan tidak ada lagi yang peduli padaku. Sampai suatu hari, ada seorang pria misterius menemuiku pada saat aku berjalan sendiri dari suatu tempat. Lalu ia memberikan aku sebuah benda yang katanya akan membuat hidupku jauh lebih baik dari sebelumnya, “Pulpen Tinta Darah”.

Tentu saja, awalnya aku tidak langsung percaya begitu saja. Tapi, suatu hari aku iseng mencoba menggunakan pulpen itu dalam sebuah ujian essai. Seperti yang dikatakannya, ternyata pulpen ini memang benar-benar dapat membuat semua jawaban ujianku menjadi benar dan membuatku selalu mendapat nilai sempurna. Dan semenjak aku memiliki pulpen itu. Ayahku menjadi sedikit lebih perhatian padaku.

Awalnya aku sangat senang karena pulpen ini sangat berguna bagiku. Tapi itu tidak bertahan lama. Aku sangat terkejut ketika membaca keterangan tentang pulpen ini yang juga diberikan oleh pria misterius itu bersama dengan pulpen ini, terutama bagaimana cara mengisi ulang tinta pulpen ini. Tapi, entah kenapa pulpen ini menguasai dan mengendalikan diriku. Sempat terjadi konflik batin yang sangat hebat dalam diriku, sampai aku merasa seperti akan menjadi gila karena hal itu. Tapi kendali pulpen ini begitu kuat apalagi ketika aku teringat dengan sikap Ayahku yang begitu tidak adil bagiku sebelumnya.

Pria misterius itu berkata bahwa pulpen itu akan membuat hidupku jauh lebih baik. Tapi, Benda itu justru membuat hidupku semakin hancur dan membuatku menjadi seorang psikopat. Hampir setiap bulan aku mulai membunuh satu-persatu korban untuk mengisi kembali tinta pulpen itu dan menggunakannya untuk ujian, agar aku selalu mendapat nilai yang bagus dalam setiap ujian tersebut. Lama-kelamaan aku semakin terbiasa membunuh dan menjadi seorang psikopat yang kejam.

Aku merahasiakan tentang pulpen itu dari siapa saja dan menyembunyikannya di bawah ranjangku. Tapi, suatu hari seorang gadis yang sebaya denganku mendatangiku. Ia ternyata tahu bahwa aku memiliki dan menggunakan pulpen tinta darah. Orang itu adalah Maya. Ya, ternyata aku sudah mengenal Maya sebelum aku kehilangan ingatanku. Ia mengaku sebagai seorang malaikat pelindung—yang ditugaskan untuk melindungiku dari pulpen itu—dari kahyangan. Ia sedang dihukum karena suatu kesalahan yang telah ia perbuat karena berkeinginan menjadi manusia dan telah menyamar menjadi manusia di muka bumi. Karena melihat keinginannya yang begitu kuat untuk menjadi manusia, sang Dewa pengusa kahyangan memberinya satu kesempatan untuk menjadi manusia tapi dengan satu tugas yaitu ia harus menghancurkan pulpen tinta darah—yang ternyata bukan hanya satu di dunia ini—yang disebarkan oleh para iblis dari neraka, dan ia juga harus menyelamatkan nyawa pengguna pulpen itu, tapi jika ia gagal maka ia akan dilenyapkan dari alam semesta. Aku percaya apa yang dikatakannya—bahwa ia adalah seoarang malaikat, karena tidak ada yang bisa melihatnya selain aku—karena ia adalah malaikat pelindungku.

Ia berusaha menyelamatkanku dan melepaskanku dari pengaruh pulpen tinta darah. Dan akupun sebenarnya juga ingin terlepas dari pengaruh jahat pulpen itu. Tapi, setiap aku mengingat sikap buruk ayahku yang tidak adil. Tiba-tiba saja aku berubah menjadi orang lain, seorang psikopat.

Suatu hari, satu bulan sebelum ujian nasional SMP dilaksanakan. Aku membaca korban selanjutnya yang akan aku bunuh untuk mengisi kembali tinta pulpen itu. Dan ternyata orang yang harus kubunuh itu adalah diriku sendiri. Aku sangat heran, tapi lagi-lagi pengaruh pulpen itu lebih kuat daripada pikiranku. Terpengaruh oleh kekutan jahat dari pulpen itu, tanganku bergerak sendiri, seluruh tubuh dan saraf-sarafku seolah-olah tidak patuh lagi pada perintah otakku. Aku mulai menggenggam erat pulpen itu, memejamkan mata, dan mengingat nama lengkapku sendiri dan muncullah aku di tempat diriku berada. Ternyata pulpen ini membawaku kepada diriku sendiri pada saat aku sudah akan berusia 16 tahun. Pulpen ini memaksaku untuk membunuh diriku sendiri dimasa depan, karena setiap pengguna pulpen ini harus mati pada usia 16 tahun, dan pulpen ini ingin membunuhku lebih cepat sebelum waktu ajalku tiba, yaitu sehari sebelum ulang tahunku yang ke 16 tahun. Seperti yang dikatakan dalam keterangan, bahwa korban yang akan dibunuh adalah orang-orang yang sudah dekat dengan ajalnya.

Aksiku untuk membunuh diriku sendiri di masa depan terus berlanjut tanpa bisa kukendalikan, karena aku sedang dalam kendali pulpen itu. Aku melihat diriku sendiri menonton TV diruang tengah. Aku melangkah menuju saklar lampu dan menekannya untuk mematikan lampu. Lalu diriku yang di masa depan tiba-tiba berseru dan ia mengetahui keberadaanku. Aku berlari menuju kebelakangnya dan kemudian mencekiknya dengan tali yang kubawa, tapi ia berhasil meloloskan diri dan naik kelantai dua lalu masuk ke dalam kamar. Aku langsung mengejarnya, tapi ia berhasil mengunci pintu kamarnya. Tapi, di bawah kendali pulpen itu aku menjadi orang yang sangat kuat. Aku berhasil mendobrak pintunya, tapi ternyata diriku yang di masa depan sudah tidak ada di dalam kamar. Aku pun berteriak sejadi-jadinya seperti orang kesetanan. Aku terus berteriak “dimana kau!”, sampai akhirnya diriku yang dir masa depan itu menunjukkan dirinya. Tanpa ragu-ragu aku menerjangnya dan mendorongnya hingga ke dekat tangga lalu kutancapkan pulpen itu kejantungnya dan kemudian mendorongnya. Tapi, tiba-tiba aku tersadar kembali dari pengaruh pulpen itu. Tapi sudah terlamabat, ketika aku berusaha menarik tangannya untuk mencegah ia jatuh. Aku justru ikut terjatuh di tangga itu, karena diriku yang dari masa depan itu menarik baju yang kukenakan. Aku pun terjatuh di tangga dan kepalaku membentur lantai dengan kerasnya. Aku merenggangkan peganganku pada pulpen itu dan akupun kembali tempat asalku—di kamar—seiring dengan kesadaranku yang menghilang.



Dan kejadian itulah yang membuat aku hilang ingatan hingga kejadian malam itu—satu hari sebelum ulang tahunku yang ke 16. Tapi sekarang, setelah aku sadar dari koma. Aku bertanya-tanya kenapa aku bisa terbebas dari kutukan pengguna pulpen itu (mati pada usia 16 tahun). Dan aku juga tidak tahu keberadaan pulpen itu sekarang. Tapi, yang membuatku lebih bertanya-tanya dimanakah Maya berada. Karena setelah kesehatan dan semua ingatanku pulih dan kembali masuk sekolah. Tidak ada seorangpun yang tahu ataupun ingat tentang Maya termasuk adikku Abi. Seolah-olah Maya adalah orang yang tidak pernah ada. Berhari-hari tidak bertemu dengan Maya, aku tidak menyangka bisa serindu ini padanya.

Suatu hari, sekali lagi pulpenku jatuh kebawah ranjang, ketika aku sedang mengerjakan tugas rumahku. Dan aku memasukkan tanganku ke kolong ranjang dan meraba-raba lantai. Aku pun menyentuh secarik kertas yang ternyata sebuah surat. Dan yang lebih membuatku terkejut adalah surat itu dari Maya. Lalu kubaca isinya.

Dari surat yang katanya diletakkan olehnya di bawah ranjangku pada saat aku dibawa kerumah sakit itu, aku tahu bahwa Maya telah lenyap. Dan sebanarnya ia tidak berhasil menyelamatkanku dari pulpen itu. Sebenarnya malam itu aku sudah terbunuh. Tapi kemudian Maya bermohon kepada sang Dewa. Ia meminta agar aku dihidupkan kembali dengan memberikan kehidupan yang dimilikinya (Maya) kepadaku. Jadi Maya tidak akan bisa lagi untuk menjadi manusia seperti yang diinginkannya.

Aku sangat sedih mengetahui kenyataan itu. Dan di bagian akhir surat Maya tertulis sesuatu yang sangat membuatku terkejut,

“Oh, Iya kau pasti juga heran. Kenapa alismu bisa tumbuh kembali begitu cepat, selain meminta agar kau dihidupkan kembali aku juga telah meminta kepada Dewa agar alismu dikembalikan ke keadaan semula. Hahaha!!.

“Sekarang pulpen itu masih belum dihancurkan. Karena ternyata Lia berhasil melewati ajalnya yang pertama (karena serangan jantung). Ia bisa hidup lebih lama hingga 16 tahun, karena telah menggunakan pulpen itu. Berdasarkan hasil keputusan para malaikat dan Dewa. Lia berhak mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih lama, kerena telah menggunakan pulpen itu.

Tapi sepertinya kau masih belum bisa menjalani hidup normalmu seperti orang lain, Karena ada satu hal lagi yang harus kau lakukan. Yaitu menemukan cara untuk menyelamatkan nyawa adikmu Abi. Karena, meskipun tidak disengaja. Abi juga telah menggunakan PULPEN TINTA DARAH!!!”.


Setahun kemudian, aku naik ke kelas 3 SMA. Ketika masuk ke kelas baruku. Aku bertemu dengan teman-teman baru, dan di antara teman-teman baruku itu ada seorang murid pindahan yang wajahnya sangat mirip dengan Maya.

THE END


"Blood Ink Pen" (Part 1)

"Blood Ink Pen" (Part 2)
"Blood Ink Pen" (Part 3)
"Blood Ink Pen" (Part 4)

Selengkapnya....

"Blood Ink Pen" (Part 4)

“Hmmm… mungkin kau benar juga.” Kata Maya.

“Tapi bagaimana kalau Pak Hadi juga menggunakan Pulpen ini?.” Tanyaku.

“Kau ‘kan sudah membaca keterangan mengenai pulpen ini. Kalau pulpen digunakan oleh orang dengan usia di atas 16 tahun tidak akan memberikan efek apa-apa.” Kata Maya.

“Oh, iya aku lupa!. Baiklah, ayo segera pulang. Aku harus menyelipkan pulpen ini kedalam buku itu (buku yang tempat biasa pulpen diselipkan) secepatnya.” Kataku.

“Kita masih punya waktu 4 hari sebelum pengguna pulpen sebelumnya menandatangimu.” Maya mengingatkanku.

Sesampainya di rumah aku langsung ke kamarku dan segera menyelipkan pulpen itu kedalam buku di mana pulpen itu biasa diselipkan. Dan keesokan paginya aku terbangun. Dan akupun segera membuka buku itu dan benar saja nama baru muncul di dalam buku itu. Namanya adalah, “Amalia Dewi”. Kebetulan hari ini adalah hari libur. Jadi aku segera ke kostan Maya untuk menanyakan apa yang sebaiknya aku lakuan selanjutnya.”

Sesampainya di sana,

“Maya, lihat nama korban selanjutnya sudah muncul. Lalu apa yang harus kulakukan”. Tanyaku pada Maya.

“Genggam erat Pulpen ini dan pejamkan mata sambil memikirkan nama korban dan anda akan terbawa ketempat korban yang dimaksud. dengan menggengam erat pulpen ini maka kau akan terlepas dari dimensi ruang dan waktu dan pulpen ini akan membawamu ke tempat korban itu berada, seperti yang dikatakan dalam keterangan.” Kata Maya.

“Baiklah aku akan melakukannya sekarang.” Akupun memejamkan mata dan menggenggam pulpen itu dengan erat sambil memikirkan nama “Amalia Dewi”. Saat aku membuka mataku sambil tetap memegang pulpen itu agar aku tetap tidak terlihat. Aku sangat terkejut, karena ternyata aku sedang berada dirumah Pak Hadi. Dan setelah pak Hadi memanggil anaknya yang bernama Lia. Akhirnya aku sadar bahwa Amalia Dewi adalah Lia anak Pak Hadi. Akupun merenggangkan genggamanku pada pulpen itu dan tiba-tiba aku kembali ke kostan Maya.

“Maya, ternyata… Amalia Dewi adalah Lia anak Pak Hadi!”. Aku memberi tahu Maya.

“Benarkah?. Pantas saja aku merasa familiar dengan nama itu. Aku baru ingat itu adalah nama lengkap Lia, Sepertinya pulpen ini sengaja memilih Lia sebagai korban, karena dia tahu kita tidak akan tega mengambil darah Lia”. Kata Maya.

“Para korban adalah orang-orang yang memang telah dekat dengan ajalnya. Itu berarti umur Lia memang sudah tidak lama lagi. Karena tadi, aku melihatnya masih berusia anak-anak.” Kataku.

“Berarti umur pengguna pulpen tidak akan bertambah hingga umur 16 tahun.” Kata Maya.

“Sepertinya itu benar. Tapi sekarang, bagaimana kita mengambil darah anak Pak Hadi. Lagipula, aku tidak tega melakukannya.” Kataku.

“Cara teraman adalah dengan menggunakan bantuan pulpen itu. Karena tidak mungkin kita meminta darahnya begitu saja.” Kata Maya.

“Tapi, apakah kita harus melukainya?. Tanyaku.

“Tidak ada cara lain. Sekarang terserah kau saja, aku juga tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Semua keputusan ada ditanganmu sendiri Danu!” Seru Maya yang tidak tahu harus memberikan saran apa lagi yang sebaiknya aku lakukan.

Setelah berpikir berjam-jam. Jika aku tidak segera mengambil darah Lia untuk dicampurkan dengan darahku agar pulpen tinta darah bisa dihancurkan, maka aku akan mati. Tapi, aku juga tidak tega melukai gadis kecil yang umurnya sudah tidak lama lagi hanya untuk kepentinganku sendiri. Tapi, akhirnya aku memutuskan untuk memberanikan diri mengambil darah Lia, Anak Pak Hadi. Apapun resikonya.

Lalu aku menggenggam erat pulpen itu sambil memejamkan mata dan mengingat nama lengkap Lia, dan sampailah aku di rumah Lia dalam sekejap. Aku melihat anak yang masih polos itu bermain dan berlari-larian dengan ayahnya di halaman rumah mereka. Dia begitu gembira begitu juga dengan Pak Hadi, Ayahnya.

“Apa yang aku pikirkan?!. Kenapa aku bisa sejahat dan seegois ini?. Pulpen ini membuatku menjadi seseorang yang jahat!” Tanpa sadar, aku meneteskan air mata penyesalan. Karena telah berniat melukai seorang gadis kecil yang tidak lama lagi akan menutup usianya itu.

Kurenggangkan tanganku dan akupun kembali ke tempat semula. Ke kostan Maya.

“Danu, apa yang terjadi. Kenapa kau menangis?” Tanya Maya.

“Aku… aku…hssssk!” Sambil menangis, aku sangat menyesali niat jahatku itu.

Aku memutuskan untuk merelakan diriku mati daripada menjadi orang yang egois yang begitu tega merusak kebahagian seorang ayah dan anaknya yang sebenarnya sudah tidak lama lagi.



Semenjak hari itu aku tidak penah masuk sekolah. Tapi, orang tuaku tidak tahu akan keadaanku sekarang, karena seminggu yang lalu mereka sedang keluar kota, mengunjungi sanak saudara kami di sana.

Sore hari dirumahku—dua hari sebelum pengguna pulpen sebelumnya mendatangiku.

“Apa kau yakin dengan keputusanmu.” Tanya Maya kepadaku.

“Ya, aku yakin”. Jawabku.

“Kalau begitu. Kau harus melakukan satu hal.” Kata Maya.

“Apa lagi?”. Tanyaku pesimis.

“Jangan begitu… mungkin kau bisa terbebas dari pengguna pulpen yang sebelumnya. Dia tidak akan bisa kau lihat ketika ia mendatangimu. Tapi, kau bisa melihatnya kalau kau mau melakukan ini”. Kata Maya meyakinkanku.

“Melakukan apa?”. Tanyaku.

“Untuk bisa melihat mahluk yang kasat mata, yang harus kau lakukan adalah…adalah… mencukur alismu sampai botak”. Kata Maya ragu-ragu.

“Hehe… di saat seperti ini kau masih bisa juga bercanda.” Kataku kepada Maya sambil tersenyum sejenak.

“Tidak, aku serius aku tidak bercanda!”. Kata Maya meyakinkan.

“Sudahlah aku tidak akan melakukan hal bodoh itu. Mungkin sudah takdirku untuk mati dua hari lagi”. Kataku pada Maya.

Aku berdiri dari tempat duduk dan melangkah masuk ke dalam rumah.

“Hey tunggu, ini pisau cukur. Kau bisa menggunakannya, kalau kau berubah pikiran”. Kata Maya sambil meletakkannya di tanganku. Dan akupum masuk kedalam rumah dan menutup pintu, meninggalkan Maya di teras rumahku.

Hari yang kami tunggu-tunggupun tiba, hari yang sangat kutunggu karena ingin segera aku lewati. Tapi sepertinya hari itu adalah hari yang tidak akan kulewati untuk hari berikutnya.

Malam hari itu, pukul 11:32 sebelum ulang tahunku esok harinya. (satu jam sebelum waktu kematianku yang tercatat dalam buku itu).

“Apakah pengguna pulpen yang sebelumnya akan datang?” Aku bertanya-tanya dan mulai merasakan ketakutan. Hari itu aku sendiri di rumah karena Abi sedang bermalam dirumah temannya.

Tiba-tiba saja. Ketika aku sedang menonton TV di ruang tengah. Terdengar suara orang melangkah beberapa meter di belakangku. Lalu tiba-tiba saklar lampu berbunyi dan lampu mati seperti ada yang menekannya.

“Itu kau ya!” Aku langsung berdiri dan langsung berseru.

“Aku sudah tahu kau akan datang, sekarang bunuhlah aku, aku sudah siap!” Teriakku.

Tiba-tiba seseorang mencekikku dengan seutas tali dari belakang. Aku tidak bisa bernafas, aku meronta-ronta dengan sekuat tenaga dan syukurlah aku bisa terlepas. Aku sadar, ternyata aku sama sekali belum siap untuk mati. Dalam keadaan sangat panik itu, tanpa pikir panjang aku berlari menuju tangga berniat mengunci diriku di dalam kamar di lantai dua agar ia tidak bisa menjangkauku. Aku pun berhasil ke kamarku dan menguncinya, gagang pintuku naik turun seakan-akan ada orang yang memaksa membuka pintu itu. Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul dipikiranku. Aku mengambil pisau cukur yang diberikan Maya yang kusimpan di laci mejaku dan mencukur habis alisku, dan satu lagi aku mengambil pulpen tinta darah milikku. Maka akupun memiliki dua poin. Sekarang aku bisa melihatnya, tapi dia tidak bisa melihatku. Tiba-tiba saja ia berhasil mendobrak pintu kamarku. Tapi, kali ini keadaan berbalik, dia yang tidak bisa melihatku karena aku juga sedang memegang pulpen ajaib itu. Dan aku benar-benar bisa melihatnya, karena telah mencukur habis alisku. Tapi, alangkah terkejutnya aku karena ternyata pengguna pulpen sebelumnya yang berniat membunuhku malam ini adalah orang yang sangat mirip denganku. Tiba-tiba aku menjadi bingung sendiri, aku sempat berpikir untuk membunuh orang itu tapi akhirnya aku benar-benar yakin bahwa orang itu adalah diriku sendiri. Itu berarti aku berniat membunuh diriku sendiri dari masa lalu.

Orang itu alias diriku dari masa lampau kemudian berteriak.

“Hei, dimana kau?!!” Ia berseru.

Jantungku benar-benar berdegup dengan kencang. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Tapi, entah kenapa aku justru tidak tahan mendengar diriku sendiri yang dari masa lampau itu berteriak-teriak mencari keberadaanku untuk membunuh dirinya sendiri yaitu aku.

“Aku di sini!”. Akupun merenggangkan peganganku pada pulpen tinta darah. Dan iapun akhirnya bisa melihatku. Tapi tanpa kuduga, tanpa ragu-ragu ia menyerangku dan mendorongku keluar kamar. Akupun berusaha bertahan tapi ia begitu kuat. Tidak kusangka ternyata ia yang adalah diriku sendiri bisa sekuat itu. Ia pun terus mendorongku hingga ke dekat tangga dia menusukkan pulpen miliknya tepat di jantungku. Aku merasa semua energiku habis diserap oleh pulpen tinta darah yang dipegangnya. Sepertinya darahku habis dihisap oleh pulpen itu. Perlahan-lahan sekujur tubuhku menjadi dingin dan kaku. Dia pun mendorongku, berniat menjatuhkanku di tangga tersebut. Tapi, dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku meraih bajunya dan menariknya ikut terjatuh bersamaku. Kamipun terguling tidak karuan di tangga itu. Dan kepala kami berdua terbentur keras di lantai. Akupun merasa sangat lemah dan perlahan-lahan penglihatanku memburam dan akhirnya aku tidak sadarkan diri.

(To Be Continued...)


"Blood Ink Pen" (Part 1)

"Blood Ink Pen" (Part 2)
"Blood Ink Pen" (Part 3)
"Blood Ink Pen" (Part 5)


Selengkapnya....

"Blood Ink Pen" (Part 3)

“Coba kulihat!” Kata Maya, sambil mengambil buku itu.

“Itu berarti kematianku di usia 16, disebabkan oleh pengguna pulpen yang sebelumnya?” Tanyaku.

“Bukan!!. Aduh bagaiman ya menjelaskannya…?. Kau mati sebelum waktu kematianmu yang seharusnya. Karena kau adalah salah satu korban yang diambil darahnya!.” Kata Maya, yang akhirnya benar-benar panik.

“Maksudnya?” Aku kebingungan.

“Kau baca ‘kan keterangan itu. “Mereka adalah orang-orang yang memang sudah mendekati ajalnya. Jadi kita hanya mempercepat sedikit waktu kematiannya.” Kau sudah mendekati ajalmu pada usia 16 karena telah menggunakan pulpen ini. Tapi ternyata kau juga adalah korban yang diminta pulpen ini untuk dibunuh oleh pengguna pulpen yang sebelumnya.” Kata Maya.

Akupun perlahan-lahan mengerti maksud Maya.

“Jadi, aku akan mati lebih cepat satu hari karena pengguna pulpen ini akan datang padaku satu hari sebelum ulang tahunku yang ke 16. Tapi apakah itu tidak bisa digagalkan apabila pulpen ini berhasil kita musnahkan?.” Tanyaku kepada Maya.

“Tidak! Meskipun pulpen itu di musnahkan. Karena orang yang datang kepadamu adalah orang dari masa lampau dan masih mempunya pulpen itu. Dia bisa datang membunuhmu dimasa depan dengan bantuan pulpen itu.” Jawab Maya.

“Jadi, tidak ada cara untuk mencegah hal itu.” Kataku yang benar-benar merasa ketakutan.

“Tunggu sebentar. Aku ingat kakekku pernah bilang untuk menggagalkan pembunuhan terhadap korban yang telah ditentukan oleh pulpen itu adalah dengan menghapus nama korban tersebut dengan menggunakan darah campuran pengguna pulpen dengan darah korban selanjutnya. Jadi, hal yang harus kita lakukan sekarang adalah secepatnya menghabiskan tinta pulpen itu. Agar kita tahu siapa korban selanjutnya.” Maya menjelaskan dengan panjang lebar.

Selama beberapa hari, di rumah maupun di sekolah. Aku menghabiskan banyak waktu untuk mencoret-coret kertas agar tinta pulpen itu segera habis. Kadang Maya membantuku melakukannya.

Ketika aku sedang sibuk mencoret-coret kertas dengan pulpen itu pada jam istirahat belajar di Sekolah. Maya menghampiriku dan berkata,

“Sebaiknya kau menempelkan namamu dipulpen ini. Karena setiap hari kau membawanya ke sekolah, bisa saja ‘kan pulpen ini hilang di sekolah?.” Kata Maya menyarankan.

“Hmmm…Betul juga katamu. Bisa gawat kalau pulpen ini sampai hilang. Baiklah, aku juga akan menambahkan gantungan agar bisa dikalungi dan tidak mudah hilang.” Kataku.

Selang beberapa hari, aku terus menggunakan pulpen itu hanya untuk mengerjakan tugas-tugas rumahku, mencoret-coret kertas dengan pulpen itu. Aku terus berusaha menghabiskan isi tinta pulpen itu. Bahkan aku pernah mencoba untuk membuka isi pulpen itu. Tapi, tidak bisa sama-sekali. Sampai akhirnya, lima hari sebelum ulang tahunku yang ke 16 atau empat hari sebelum pengguna pulpen sebelumnya mendatangiku, saat aku sedang mencoret-coret kertas dengan pulpen itu di sekolah, akhirnya tintanya benar-benar habis.

“Akhirnya!!!.” Aku berseru kegirangan, karena tinta pulpen maut itu akhirnya berhasil kuhabiskan. Semua siswa-siswi di kelasku melihatku dengan pandangan aneh.

“hehehe… bukan apa-apa?. Maaf ya teman-teman.” Aku berusaha membuat mereka tidak curiga.

“Maya, tintanya habis….” Aku berbisik kepada Maya.

“Benarkah?. Kalau begitu ketika pulang nanti selipkan pulpen ini ke buku itu.” Kata Maya.

“Baiklah!. Tapi, kenapa kau bisa tahu semuanya?.” Tanyaku pada Maya.

“Hee? ‘kan sudah kubilang kakekku pernah menceritakanku tentang pulpen ini.” Kata Maya.

“Memangnya kakekmu itu orang yang seperti apa, darimana dia tahu tentang pulpen ini?.” Aku bertanya lagi kepada Maya.

“Itu… Kakekku adalah orang yang seperti aku. Eh bukan!, sebaliknya aku yang seperti dia. Kau tahu kenapa aku sangat suka hal-hal yang berbau mistis dan kemampuanku melihat mahluk halus?. Itu semua menurun darinya. Sudah jangan banyak bertanya lagi. Lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya kita mendapatkan darah korban yang selanjutnya itu.” Kata Maya.

Ketika waktu pulang sekolah telah tiba. Aku bergegas lari menuju rumah. Karena begitu semangatnya, aku tidak menunggu Maya dan Abi untuk pulang bersama-sama seperti biasanya. Ketika sampai di depan pintu rumah, aku memeriksa saku bajuku, saku celana, kemudian tasku tapi pulpen itu tidak ada. Ternyata pulpen itu terjatuh di tengah jalan—bukan tertinggal di sekolah, karena aku mengalungkan pulpen itu dileherku, dan sekarang hanya tinggal gantungannnya. Aku benar-benar merasa sangat bodoh, bagaimana bisa aku menghilangkan pulpen yang menentukan kematianku itu. Tanpa berpikir panjang lagi akupun kembali menyusuri jalan yang kulewati menuju rumah dengan rasa panik bukan main.

Lalu di tengah perjalanan aku melihat seorang gadis kecil kurus sedang bermain sendirian di depan rumahnya yang sangat sederhana. Dan gadis kecil itu memegang pulpen tinta darah yang kujatuhkan. Akupun melangkah mendekati gadis kecil itu. Tapi, tiba-tiba seorang pria keluar dari dalam rumahnya. Dan, ternyata pria itu adalah pak Hadi.

“Lia, ayo masuk nak, jangan terlalu lama bermain di luar rumah.” Pak Hadi memanggil anak itu.

“Ia Ayah.” Kata anak gadis kecil yang ternyata adalah putri pak Hadi yang bernama Lia.

“Hah! Ini rumah Pak Hadi?. Kok aku tidak tahu ya? Padahal, hampir tiap hari aku melewati rumah ini setiap pulang sekolah.” Gumamku dalam hati.

Pak Hadi melihatku di depan pagarnya.

“Eh, Danu ada perlu apa datang kemari?!.” Tiba-tiba pak Hadi bertanya kepadaku.

“Anu pak, aku…aku… mau….” Aku menjawab dengan kebingungan.

“Ayo..ayo masuk saja dulu. Kelihatannya kau sangat kelelahan?” Kata Pak Hadi, dan kemudian dia juga menyuruh anaknya untuk masuk.

Aku pun masuk ke ruang tamu pak Hadi yang sangat sederhana. Hanya ada tikar untuk duduk dan sebuah meja pendek di tengahnya.

‘Oh, iya bapak masuk dulu ya nak, mau buatkan minuman, jangan sungkan-sungkan anggap saja rumah sendiri ya.” Kata Pak Hadi.

Sementara itu aku duduk lesehan di ruang tamu pak Hadi yang tidak berkursi. Dan gadis kecil anak Pak Hadi duduk seberang meja.

“Kakak, muridnya ayah ya?.” Lia bertanya kepadaku.

“Ia, dik.” Jawabku sambil tersenyum.

Akupun mulai berbasa-basi. Berusaha mengetahui darimana gadis kecil itu mendapatkan pulpenku.

“Adik manis, pulpennya bagus sekali. Kalau kakak boleh tahu beli di mana?” Tanyaku.

“Oh, ini kupinjam dari ayah. Aku memintanya, tapi ayah bilang ini punya muridnya. Jadi aku pinjam saja sebentar untukku belajar menulis, hehehe….” Anak itu menjawab.

“Dik, sebenarnya itu pulpen kakak, kamu lihat kan nama yang tertempel dipulpen itu, itu nama kakak, Danu. Boleh tidak kakak minta kembali, sebagai gantinya kakak akan memberikanmu gantinya.” Aku langsung saja berterus terang.

Akupun mencari benda apa yang bisa ditukarkan dengan pulpen itu di dalam tasku. Untung saja tadi siang aku sempat membeli sebatang cokelat. Ketika aku sedang merogoh tasku, mencari cokelat itu. Tiba-tiba ia berkata.

“Benarkah?. Karena kakak pemiliknya kalau begitu ini ambillah. Kata ayah kita harus mengembalikan semua barang yang telah kita pinjam atau temukan kepada pemiliknya.” Ia menyerahkan pulpen itu begitu saja tanpa dibujuk dengan coklat yang ingin kutawarkan. Tiba-tiba saja aku merasa ingin punya adik perempuan yang manis dan baik seperti anak Pak Hadi itu.

Pak Hadi pun keluar membawa segelas minuman sambil bertanya kepada anaknya, Lia.

“Lia, apa kau lihat pulpen yang tadi. Ayah mau kembalikan ke kak Danu?.” Pak Hadi bertanya kepada Lia.

“Ini, sudah kukembalikan yah.” Jawab Lia.

“Oh iya, itu pulpen kamu ‘kan Danu?. Tadi bapak menemukannya di gerbang sekolah. Untung saja kamu menulis nama dan kelasmu di pulpen itu, kelihatannya pulpen itu sangat berharaga makanya kamu sampai menulis nama dan kelasmu disitu iya ‘kan?.” Kata Pak Hadi.

“Ii…iya pak. Pulpen ini memang sangat berharaga buatku.” Jawabku.

Untung saja Maya menyarankan aku untuk menulis nama lengkap dan juga kelasku dipulpen itu. Agar kalau hilang bisa lebih mudah ditemukan.

“Oh, iya kamu ke sini ada perlu apa kalau bapak boleh tahu. Apa mencari pulpenmu itu?” Pak Hadi bertanya.

“Itu…” kataku bingung menjelaskan kenapa aku bisa sampai dirumah Pak Hadi.

“Tok..tok..tok..!!” Tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu rumah Pak Hadi.

“Selamat siang?. Apakah ada orang di rumah?.” Salam seoarang gadis dari luar rumah. Sepertinya aku mengenal suara orang itu.

“Itu kak Maya!. biar aku yang buka pintunya!.” Seru Lia kegirangan.

Lalu Maya masuk ke dalam ruang tamu.

“Danu?. Kok kamu di sini ada perlu apa dengan Pak Hadi?.” Tanya Maya.

“Aku kesini mau… mau tanya tentang PR yang baru diberikan tadi siang!, kau sendiri kenapa ke sini?.” Aku menjawab dan balik bertanya.

“Oh, kebetulan aku juga sering ke sini beberapa hari terakhir. Aku juga biasa meminta Pak Hadi untuk mengajarkan tentang PR. Kalau begitu sekalian saja kita belajar bersama!” Jawab Maya.

“Oh, begitu. Baiklah ayo kita belajar bersama!.” Kataku.

Tiba-tiba Lia berseru kepada Maya.

“Kak Maya, nanti kita main lagi ya!.” Seru Lia.

“Ia, pasti itu pasti!.” Jawab Maya yang kelihatannya sudah sangat akrab dengan Lia.

Beberapa jam kemudian. Tidak terasa hari sudah senja. Akhirnya, kami berpamitan pulang kepada pak Hadi. Dan di perjalan kami berbincang,

“Maya, kok aku tidak tahu kalau itu rumah Pak Hadi, padahal kita tiap hari lewat di situ?.” Tanyaku.

“Oh, memang. Pak Hadi baru beberapa hari yang lalu pindah kerumah itu.” Jawabnya.

“Eh iya, kok kamu bisa akrab sekali ya dengan Lia?. Kau kelihatan seperti kakaknya saja” aku bertanya lagi.

“Kau lupa ya, kau sendiri yang bilang aku murid kesayangannya Pak Hadi. Hmmm… Tapi, sebenarnya aku kasihan dengan Lia.” Kata Maya.

“Kenapa?.” Tanyaku.

“Kau tidak tahu ya. Ibunya Lia sudah meninggal karena serangan jantung. Dan ternyata Lia juga mengidap penyakit jantung. Aku kasihan pada Pak Hadi yang hidup sebagai orang tua tunggal untuk Lia. Dan ia harus menanggung biaya pengobatan dan terapi jantung yang sangat besar untuk anak satu-satunya Lia. Makanya ia menjual rumahnya dan pindah ke rumah yang lebih sempit. Itu semua demi kesembuhan Lia. Dan kau tahu, katanya umur Lia mungkin tidak akan bertahan lama lagi.” Kata Maya.

“Benarkah, kok aku baru tahu.” Kataku.

“Makanya jangan hanya mengurus dirimu sendiri, tanpa mempedulikan orang lain.” Kata Maya.

“Ia ibu, terimakasih nasihatnya. Tapi, itu bukan aku yang tidak peduli. Hanya kamu saja yang selalu ingin tahu saja urusan orang.” Celetukku kepada Maya.

“Enak saja kamu!.” Kata Maya dengan wajah agak cemberut.

“Sebenarnya… Tadi itu pulpen tinta darah ini sempat hilang. Aku mencarinya sampai di depan rumah Pak Hadi. Aku melihat Lia sedang bermain-main sendiri di halaman rumahnya dan memegang pulpen ini. Ternyata pulpen ini jatuh di gerbang sekolah dan Pak Hadi yang menemukannya.” Aku memberitahu kepada Maya.

“Apa?! Bisa-bisanya kau menghilangkan pulpen itu! Pantas saja aku merasa kau berbohong tadi.” Kata Maya.

“Tapi ‘kan yang penting pulpen ini bisa kutemkan lagi. Ngomong-ngomong, memangnya kamu bisa tahu orang yang sedang berbohong seperti apa?. Tapi, Tadi Lia sempat menulis dengan pulpen ini loh!. Jadi, apakah Lia akan maninggal pada usia 16 tahun, padahal ‘kan kau bilang umurnya tidak akan lama lagi. Jadi tidak selamanya pulpen ini memperpendek umur kita?.” Tanyaku.

(To Be Continued...)


"Blood Ink Pen" (Part 1)

"Blood Ink Pen" (Part 2)
"Blood Ink Pen" (Part 4)
"Blood Ink Pen" (Part 5)


Selengkapnya....

"Blood Ink Pen" (Part 2)

Maya lalu menoleh kearahku sejenak dengan alis yang menukik kebawah. Meskipun terlihat bingung, tapi kelihatannya dia melihatku dengan jelas.

Lalu ia melihat kearah tanganku yang sedang memegang pulpen. Dan ia pun langsung berbisik,

“Pegang yang erat terus.” Kata Maya.

“Apa?” Aku bertanya kepada Maya.

“Pulpenmu, apapun yang terjadi kamu harus terus memegangnya dengan erat, OK!.” Perintah Maya.

“Woy, udah gila ya lo?. Ngomong sendiri.” Preman itu heran melihat Maya berbicara kepadaku.

“Aku tidak berbicara sendiri kok! Kalau kalian mahu tahu, aku sedang berbicara dengan jin sahabatku” Kata Maya.

“Wah jangan-jangan lo emang udah sarap ya?!. Mana ada yang namanya jin. Siang-siang gini lagi.” Kata salah satu dari preman-preman itu.

“Kalau tidak percaya, aku bisa menyuruh jin-ku mengangkat batu itu. Jin ayo angkat batu itu.” Kata Maya sambil menghadap kepadaku.

Dengan langkah ragu-ragu. Kemudian aku mengabil batu yang lumayan berat yang ia maksud. Tapi, sementara itu aku juga terus menggenggam erat pulpen yang kupegang. Ketika aku mengangkat batu itu. Para preman itu pun langsung terkejut ketakutan seakan-akan mereka sedang melihat hantu.

“Sekarang lempar batu itu jin!”perintah Maya pada jin yang sebenarnya adalah aku.

Tanpa ragu-ragu aku melempar batu itu kearah para preman-preman itu. Merekapun lari kalang-kabut seperti orang yang sedang di kejar-kejar anjing.

“HaHaHaHa…” tawa Maya begitu kerasnya.

“Maya, kenapa mereka keliatannya tidak bisa melihatku?.” Aku bertanya kepada Maya.

“Oh iya, cepat lepas pulpen itu!” seru Maya.

Aku pun melepas pulpen itu ke tanah, lalu ia mengambil pulpen itu dan mengamatinya dengan seksama.

“Hey, kau belum menjawab pertanyaanku. Lalu kenapa kamu bisa lihat aku tadi!” aku semakin penasaran tapi Maya hanya sibuk mengamati pulpen itu.

“Tidak salah lagi, Ini pulpen tinta darah...” Gumam Maya.’

“Apa? Pulpen apa?.” Aku bertanya keda Maya.

“Pulpen tinta darah!.” Jawab Maya.

“Pulpen tinta darah?. Pulpen macam apa itu.” Aku semakin penasaran.

“Dulu almarhum kakekku pernah bercerita tentang sebuah pulpen. Ia bilang pulpen itu bisa membuat jawaban yang salah menjadi benar. Dan bisa membuat orang menghilang jika genggam dengan erat!.” Kata Maya menjelaskan padaku dengan wajah yang serius.

“Ah, ada-ada saja kamu. Itu pasti karena kamu terlalu terobsesi dengan hal-hal mistis. Aku tidak percaya ah!.” Kataku.

“Tidak percaya bagaimana?. Kamu lihat sendiri ‘kan mereka tadi tidak bisa melihamu. Oh ya, kamu juga bilang jawaban ulanganmu berubah menjadi benar. Iya ‘kan?.” Kata Maya yang membuatku menjadi yakin dengannya.

“Benar juga sih… tapi masa ia ada benda seperti itu. Lalu kenapa kamu bisa melihatku tadi?.” Tanyaku kepada Maya.

Lalu ia Menjawab,

“Aku ‘kan sudah bilang, aku bisa melihat mahluk halus dan hal-hal gaib lainnya. Kamu pikir aku bergurau tentang hal itu?.”

“Tapi… apa iya ada benda seperti itu. Pulpen tinta darah yang ajaib.” Aku bertanya-tanya dalam hati.

Ternyata selama ini Maya memang benar-benar bisa melihat mahluk halus. Pantas saja ia begitu yakin dengan hal-hal magis. Diapun menanyakan apakah aku juga menemukan benda lain bersama pulpen itu.

“Apa kamu juga menemukan sesuatu yang lain bersama pulpen ini?. Maya bertanya kepadaku.

“Tidak. Aku hanya menemukan pulpen ini saja dibawah ranjangku.” Aku menjawab pertanyaan Maya.

“Kalau begitu ayo kita ke rumahmu. Mungkin di bawah ranjangmu atau dikamarmu ada suatu petunjuk mengenai pulpen ini.” Kata Maya.

“Baiklah ayo kita pergi!.” Kataku.

Kamipun segera kerumahku. Kuperiksa kolong ranjangku dan aku pun menemukan sebuah buku. Kemudian aku mengambil buku tersebut. Aku belum pernah melihat buku tersebut sebelumnya, jadi kupikir buku ini adalah benda yang memiliki kaitan dengan pulpen itu. Dan ketika aku membuka buku itu. Benar saja, di dalam buku tersebut terselip secarik kertas usang yang isinya mengenai pulpen tersebut. Sementara di buku itu tertulis nama-nama orang—dengan tanggal-tanggal disamping masing-masing nama—dengan tinta berwarna merah.

Isi kertas itu berisi tentang kegunaan dan aturan pemakaian pulpen tersebut:

“Pulpen Tinta Darah”

Fungsi pulpen ini adalah mengubah jawaban yang salah menjadi jawaban yang benar. Tuliskan jawaban apa saja dari soal yang ada. Maka tulisan itu akan berubah menjadi jawaban yang benar dari soal yang dimaksud.

Tentu saja pulpen ini tintanya juga bisa habis. dan untuk mengisi ulang tinta pulpen ini adalah dengan MEMBUNUH. Dan seluruh darah orang yang di bunuh itulah yang akan menjadi tinta dari pulpen ini. Cukup tancapkan pulpen ini ke tubuh mayat tersebut dan darah dengan sendirinya akan mengalir masuk kedalam pulpen ini.

Tapi, orang-orang yang harus dibunuh sudah ditentukan oleh pulpen ini. Setiap kali tintanya habis, satu nama korban akan muncul di sebuah buku di mana pulpen ini biasa diselipkan. Mereka adalah orang-orang yang memang sudah mendekati ajalnya. Jadi kita hanya mempercepat sedikit waktu kematiannya. Dan, ketika orang itu sudah mati, degan sendirinya waktu kematian akan tertulis disamping nama mereka masing-masing.

Untuk mempermudah anda mendapatkan tinta pulpen ini—membunuh orang. Ketika anda memegang pulpen ini dengan erat. Maka anda akan terlepas dari ikatan demensi ruang dan dimensi waktu. Dengan kata lain anda tidak akan terlihat dan bisa berpindah tempat dan waktu dengan mudah dengan bantuan pulpen ini. Genggam erat pulpen ini dan pejamkan mata sambil memikirkan nama korban, dan anda akan terbawa ketempat korban yang dimaksud.

Setiap pengguna pulpen ini akan mati pada usia 16 tahun.Oleh karena itu pulpen ini tidak akan berfungsi jika dipakai oleh orang-orang yang berusia di atas 16 tahun.




Tiba-tiba saja aku terdiam tubuhku seakan kaku dan keningku berkeringat dingin ketika membaca keterangan yang terakhir. “Pengguna pulpen ini akan mati pada usia 16 tahun.” Dan aku telah menggunakan pulpen itu.

“Hey, kau kenapa?! Apa yang tertulis di situ?.” Maya keheranan melihatku terdiam.

Maya langsung mengambil kertas yang kupegang sementara aku masih terdiam lemas. Lalu ia membaca semua isi kertas tersebut dan berkata,

“Ini tidak selengkap yang diberitahukan oleh kakekku dulu” Kata Maya yang sepertinya tahu lebih banyak tentang pulpen itu.

“Benarkah, lalu apakah keterangan yang terakhir itu benar?” Tanyaku dengan gemetar.

“Benar….” Kata Maya.

“Kenapa kau begitu tenang? Kau tahu aku sudah menggunakan pulpen itu. Itu berarti aku akan mati, mati...Maya…mati…!!!” kataku.

“Aku tahu. Tenang saja kakekku bilang ada cara untuk mencegah kematian itu.” Jawab Maya tanpa ekspresi panik.

Maya memang tidak pernah terlihat panik ataupun takut. Sepertinya hidupnya begitu mudah karena dia tahu segala hal untuk menyelesaikan semua masalah. Atau mungkin dia memang tidak memiliki ekspresi tersebut. Terkadang aku berpikir dia adalah gadis yang aneh.

Tapi, aku sedikit lega mendengarnya.

“Bagaimana..?.” Tanyaku.

“Kita harus menghancurkan pulpen itu.” Jawab Maya.

“Baiklah aku akan membakar pulpen ini!” Seruku dan langsung berdiri ingin segera memusnahkan pulpen itu.

Maya berkata,

“Tidak bisa! Pulpen itu tidak akan hancur hanya dengan dibakar. Satu-satunya cara adalah…”

“Apa caranya? Bagaimana?” Aku betul-betul penasaran den menggebu-gebu ingin segera memusnahkan pulpen yang akan membunuhku itu.

“Oh iya, aku ingat! Satu-satunya cara untuk menghancurkan pulpen ini adalah, membuat pulpen ini menyerap darahmu yang dicampur dengan darah korban selanjutnya.” Jawab Maya.

“Korban selanjutnya…?.” Kataku.

“Ia, korban selanjutnya. Korban selanjutnya yang ditentukan oleh pulpen itu. Untuk diambil darahnya sebagai tinta. Nama korban itu akan muncul di buku—di mana pulen ini biasa diselipkan—setelah tinta pulpen itu habis.” Kata Maya.

“Jadi, untuk mengetahui siapa korban selanjutnya. Aku harus tetap memakai pulpen ini. Agar tintanya segera habis.” Tanyaku.

“Sepertinya begitu. Hmmm… memang harus terus digunakan agar tintanya cepat habis.” Kata Maya.

“Ini gawat. Beberapa minggu lagi aku akan berusia 16 tahun. Aku harus segera menghabiskan tinta pulpen ini!.” Aku pun segera mencorat-coret kertas yang ada dengan pulpen itu. Dan berharap tintanya segera habis.

Belum habis ketakutanku akan ketentuan pengguna pulpen yang akan membuatku mati pada usia 16. Aku langsung menghentikan tanganku yang mencoret-coret kertas katika sepintas aku meliahat buku—tempat pulpen itu biasa diselipkan—yang masih terbuka. Di dalam buku itu terdapat nama-nama korban yang telah dibunuh sebelumnya beserta waktu kematiannya masing-masing. Tapi ada satu yang aneh. Di daftar nama-nama itu, tertera dengan jelas nama lengkapku di urutan terakhir tapi dengan waktu kematian satu hari sebelum ulang tahunku tahun ini—hari ulang tahunku yang ke 16 hanya beberapa minggu lagi. Akupun kembali shock. Dan jantungku benar-benar berdebar sangat kencang.

“Maya… coba kau lihat ini. Kenapa namaku tertulis di daftar para korban di buku ini.” Aku bertanya kepada Maya.

(To Be Continued...)



"Blood Ink Pen" (Part 1)

"Blood Ink Pen" (Part 3)
"Blood Ink Pen" (Part 4)
"Blood Ink Pen" (Part 5)




Selengkapnya....

"Blood Ink Pen" (Part 1)

Namaku Danu, tahun ini aku baru saja naik ke kelas 2 SMA, aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan seorang adik laki-lakiku bernama Abi. Abi adalah adik kelasku di sekolah. Dia adalah murid akselerasi yang loncat kelas. Sebenarnya untuk anak seumurnya, Abi masih kelas 2 SMP.

Tidak banyak yang bisa kuceritakan tentang diriku karena aku sendiri juga tidak tahu dengan pasti siapa diriku sebenarnya. Karena, aku adalah penderita amnesia. Teman-temanku hanya tahu bahwa aku kecelakaan dan mengalami benturan di kepala. Tapi sebenarnya, setahun yang lalu di suatu malam orang tuaku menemukanku tak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah di dalam kamarku sendiri. Jadi, orangtuaku pikir aku mencoba bunuh diri karena selalu ditekan oleh ayahku untuk selalu berprestasi di sekolah, tapi mereka merahasiakan itu semua dari teman-teman dan guru-guruku di sekolah. Dan setelah kejadian itu ayahku merubah sikapnya dan sekarang dia tidak lagi memaksakan kehendaknya.

Suatu hari, ketika aku sedang mengejakan tugas rumah mate- matika, dengan tidak sengaja aku menjatuhkan pulpen yang kugunakan. Pulpen itu bergelinding masuk ke bawah ranjang yang letaknya tepat di samping meja belajarku. Aku mencoba mengambilnya, dan memasukkan tanganku kedalam kolong ranjang yang berdebu itu. Kuraba-raba lantai, dan tiba-tiba telapak tanganku menyentuh sebuah pulpen. Kutarik pulpen tersebut, tapi ternyata pulpen itu bukan pulpen milikku yang kujatuhkan tadi. Pulpen tersebut belum pernah kulihat sebelumnya, karena pulpen itu sangat unik, aku langsung jatuh hati pada pulpen yang unik itu, lalu kusimpan pulpen itu kedalam tas sampingku. Tetapi sebenarnya aku sangat familiar dengan pulpen tersebut. Dan ketika memegangnya aku merasa ada hal yang aneh dan ada sedikit rasa takut muncul di ingatanku. Tapi, ingatan itu tidak begitu jelas jadi aku tidak begitu mempedulikannya.

Keesokan harinya. Ada satu nomor dari pekerjaan rumah mate-matikaku yang tidak bisa kudapat jawabannya. Dan sahabat baruku yang bernama Maya selalu menawarkanku jawaban PR-nya tersebut. Ia adalah murid pindahan di kelasku. Aku dan adikku jadi akrab dengannya karena ternyata jalan ke kostannya, searah dengan rumah kami. Kami bertiga sering berjalan pulang kerumah bersama-sama.

Dia teman yang sangat baik dan pemberani. Dan satu lagi dia sangat cerdas. Aku yakin dia adalah siswi yang memiliki IQ di atas rata-rata, karena aku sendiri heran kenapa dia selalu mengetahui segala hal dan hampir mahir dalam melakukan apa saja. Ya… menurutku dia memang gadis yang sangat manis, makanya banyak teman-teman dan kakak-kakak kelas yang suka kepadanya. Aku sangat beruntung bisa dekat dengannya, tapi yang paling kusuka darinya adalah dia bukanlah orang yang sombong. Meskipun sepertinya dia sosok yang karismatik yang pernah kutemui, ternyata ia adalah orang yang sangat percaya dengan hal-hal magis. Dia pun mengaku bisa melihat mahluk halus, ya… meskipun aku sahabatnya, tapi aku tidak begitu yakin dengan kemampuannya yang satu ini.

Kemudian aku mengeluarkan buku PR mate-matikaku dan pulpen yang kutemukan di bawah ranjangku kemarin. Dan aku mulai menyalin pekerjaan Maya. Ketaka menyalin, Kulihat Maya terus memperhatikan pulpen yang kugunakan dengan wajah penasarannya.

“Darimana kamu dapat pulpen itu?” Tiba-tiba Maya bertanya.

“Oh ini, bagus ‘kan? Aku temukan di bawah tempat tidurku kemarin. Memangnya kenapa?” Aku menjawab dan balik bertanya.

“Tidak… tidak kenapa-kenapa. Eh, tapi aku seperti merasa ada yang ganjil dengan pulpenmu itu.” kata Maya.

“hmmm… mulai lagi ‘kan… memangnya ada yang ganjil bagaimana?” aku bertanya lagi.

“hehehe… tidak kok aku cuma bercanda.. sudah kerjakan saja, pak guru sudah mau masuk tuh!” seru Maya.

“makanya jangan ganggu!” aku menggerutu.

“Aku ‘kan Cuma bertanya” sanggah Maya.

“Tapi, ngomong-ngomong mana Abi? Kok dia tidak sama kamu?.” Tanya Maya.

“Oh, Katanya dia tidak enak badan, jadi dia tidak masuk hari ini.” Jawabku.

“Oh…” Kata Maya, sambil menganggukkan kepalanya.

Saat semua siswa sibuk dengan perbincangan mereka masing-masing. Tiba-tiba guru mate-matika kami–Pak Hadi—melangkah masuk ke dalam kelas. Beliau membawa setumpuk kertas soal dan meletakkannya di atas meja guru dan berkata,

“Anak-anak kita akan ulangan harian hari ini!”

Semua siswa sontak mengeluh. Karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan bahwa akan ada ulangan harian hari ini.

“Memangnya ada ulangan?” aku bertanya kepada Maya.

“Aku juga tidak tahu, bapak ‘kan minggu lalu tidak masuk. Karena anaknya mendadak masuk rumah sakit. Mungkin dia tidak sempat memberitahukan kita” Jawab Maya.

“Aduh gawat ini!, semalam aku tidak belajar, cuma kerja PR saja.” Kataku.

“Tapi pak, kita belum belajar. Karena bapak tidak memberitahukan akan ada ulangan harian hari ini.” Protes seorang murid di kelas.

“Maaf ya anak-anak, minggu kemarin bapak tidak bisa masuk. Karena anak bapak mendadak sakit dan harus dirawat di rumahsakit. Tenang saja, soal-soal ulangan kali ini mudah kok. Karena semua soalnya sudah pernah bapak berikan pada kalian sebelumnya. Ulangan harian kali ini dalam bentuk essai.” Kata pak Hadi.

“sekarang kumpul buku PR kalian, ada tugas ‘kan?.” sambungnya.

Ulangan harian pun tetap dilaksanakan. Walaupun soal-soalnya sudah dibahas, tapi tetap saja soal-soalnya sulit bagiku. Meskipun aku sering menyalin PR Maya, tapi aku tidak akan menyontek kertas ulangan Maya. Karena ulangan itu berbeda dengan PR. Meskipun ia menawarkan jawabannya. Tapi, dalam ulangan aku harus lebih suka berusaha sendiri, meskipun itulah yang membuatku sering gagal dalam ulangan harian, hehehe…!!

Waktu yang diberikan untuk ulangan pun sudah habis. Aku hampir berhasil menjawab semua soal dengan kerja kerasku sendiri, tapi aku tidak begitu yakin dengan benar tidaknya jawaban itu.

Guru kami yang satu ini (Pak Hadi). Sangat suka memeriksa ujian kami dan mengumumkan hasilnya pada hari yang sama setelah melakukan ulangan. Dan Maya selalu dipercayakan olehnya untuk membantu memeriksa ulangan-ulangan kami.

Maka hasil ujian diumumkan pada hari itu juga.

“Ckckck… hanya sebagian dari kalian yang tuntas dalam ulangan hari ini. Tapi, ada dua dari kalian yang mendapatkan nilai sempurna. Mereka adalah Maya dan Danu!” Pak Hadi mengumumkan hasil ulangan tersebut.

Semua siswa bertepuk tangan, sekedar memberikan selamat kepada kami yang mendapatkan nilai sempurna itu. Meskipun sepertinya ada di antara mereka yang tidak tulus melakukannya. Karena, tidak seperti biasanya aku mendapat nilai sempurna. Padahal ada beberapa soal yang tidak bisa kuselesaikan karena aku lupa langkah selanjutnya.

Kertas ulangan itupun dibagikan. Dan aku terkejut melihat soal-soal yang tidak kukerjakan seluruhnya sudah terisi sampai selesai. bahkan jawaban ku yang salah berubah menjadi benar. Akupun curiga pada Maya yang merubahnya untukku. Tapi, sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal seperti ini.

Ketika pulang sekolah. Aku dan Maya jalan kaki pulang bersama-sama seperti biasanya.

“Tadi… kamu ya, yang ganti dan lengkapi jawaban soal ulanganku ‘kan?” Tanyaku kepada Maya.

“Ganti?, Lengkapi?, maksudmu?” bukannya menjawab pertanyaanku, Maya justru bertanya balik dengan kening mengerut.

“Alah, tidak usah pura-pura!. Kamu ‘kan yang bikin ulangan mate-matikaku dapat seratus?. Kamu ‘kan yang bantu pak Hadi untuk memeriksa ulangan-ulangan tadi. Siapa lagi yang mengganti dan melengkapi jawabanku selain kamu. Tidak mungkin pak Hadi ‘kan?.” Kataku berusaha membuat Maya mengaku.

“Sumpah, aku tidak mengerti maksudmu. Memang aku yang memeriksa kertas ulanganmu tadi. Tapi, jawabanmu memang sudah lengkap kok, dan semuanya benar. Aku sama sekali tidak merubah atau melengkapi jawabanmu!” Jawab Maya, dengan wajah yakin karena ia memang benar.

“Tapi, aku yakin sekali, kalau tadi itu ada beberapa soal yang tidak kuselesaikan karena aku tidak tahu langkah selanjutnya.” Kataku.

“Masa? Tapi benar kok. Aku sama sekali tidak melakukan yang kamu maksud itu.” Jawab Maya dengan yakin, sekaligus bingung karena dia juga heran kenapa ulanganku bisa berubah jawabannya.

Tiba-tiba ditengah perjalanan. Di sebuah lorong ada sekelompok preman—empat orang—yang biasa memalak orang-orang yang lewat, mencegat kami.

“Eh..eh..eh, mau kemana? Cie yang jalan beduaan. Masih kecil belum boleh pacaran...” Kata seorang preman berwajah sangar dan tattoo yang memenuhi kedua tangannya.

“Alah, gak usah basa-basi lo!. Mana duit kalian. Kasih kekita…!!” kata seorang temannya, sambil mengeluarkan sebuah pisau kecil, dan langsung menodongkannya ke arah kami.

“Jangan macam-macam ya… kalaian akan menyesal nanti!” Seru Maya dengan sikap kuda-kudanya bersiap akan memukul para preman itu.

Ya… seperti yang kubilang tadi Maya adalah gadis yang hampir mahir dalam melakukan apa saja, ia pernah mengikuti ekskul Karate disekolahnya yang dulu. Memang, ia adalah gadis yang berani, tapi aku tidak menyangka tingkat keberaniannya bisa setinggi itu.

“May, jangan nekat donk!. Mending kita lari aja. Ayo…ayo…” bisikku sambil menarik tangan Maya.

Maya tidak bergeming dari posisinya. Terpaksa kutarik tanggannya dan lari secepat yang kubisa sambil terus memegang tangannya.

“Ehh… mau kabur kemana kalian!!. Ayo kejar mereka.” Seru seorang preman yang sepertinya pemimpin dari mereka.

‘Iiiihh…!! Kenapa kita lari. Aku bisa kok memberi pelajaran kepada mereka semua! Berhenti…berhenti….” Kata Maya.

Tiba-tiba disebuah belokan lorong tersebut. Pulpen yang kutemukan kemarin yang kebetulan kuletakkan di saku bajuku terjatuh. Aku berhenti dan segera mengambilnya kembali. Sementara itu, para preman tadi semakin mendekat. Aku pun segera bersembunyi di samping tempat pembuangan sampah.

“Hey Maya, ayo kesini!” kupanggil Maya, yang justru dengan semangatnya menanti para berandal jalanan itu datang.

“Ayo.. Kemari kalau berani!!!” Pekik Maya.

Melihat dia yang begitu berani, membuatku jadi malu sendiri. Akupun mengepal tanganku dan kugengam erat pulpen unikku itu dan memberanikan diri keluar dari persembunyian dan ikut berdiri disampingnya.

Para preman itu pun tiba di hadapan kami.

“Lo berani juga ya…?!!. Tapi, sayang sekarang lo cuma sendiri. Mana temen lo yang pengecut itu?!!” Preman itu berkata sambil tersenyum picik kepada Maya.

“Cuma sendiri? Kenapa dia bilang Maya cuma sendiri. Apa dia tidak melihatku..??” Aku bertanya-tanya dalam hati.

(To Be Continued...)


"Blood Ink Pen" (Part 2)
"Blood Ink Pen" (Part 3)
"Blood Ink Pen" (Part 4)
"Blood Ink Pen" (Part 5)



Selengkapnya....